FIKIH

Hadits Terkait Perubahan Arah Kiblat

Jan 01, 2022


عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما- قال: «بَينَمَا النَّاس بِقُبَاء في صَلاَة الصُّبحِ إِذْ جَاءَهُم آتٍ، فقال: إِنَّ النبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- قد أُنزِل عليه اللَّيلةّ قرآن، وقد أُمِرَ أن يَستَقبِل القِبْلَة، فَاسْتَقْبِلُوهَا، وكانت وُجُوهُهُم إلى الشَّام، فَاسْتَدَارُوا إِلى الكعبَة».

Dari sahabat Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata,

“Ketika orang-orang yang berada di Qubā` dalam shalat subuh, tiba-tiba seseorang datang, lalu ia berkata, "Sesungguhnya telah diturunkan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- suatu ayat Al-Qur'ān di malam ini, dan beliau diperintahkan menghadap kiblat (ka’bah), maka menghadaplah kalian ke arah kiblat (ka’bah)!" Saat itu, wajah-wajah mereka menghadap ke arah Syam, maka mereka pun lantas bergerak memutar ke arah Ka'bah."

Hadits di atas diriwayatkan oleh al Imam Bukhari dan al Imam Muslim.


Penjelasan hadits

Di awal-awal ketika nabi Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam berhijrah ke kota Madinah, maka arah kiblat sholat ketika itu masih menghadap ke baitul maqdis. Baitul maqdis sendiri berada di Syam, di utara kota Madinah. Saat itu, nabi dan para sahabat sholat menghadap ke arah utara. Nabi sendiri sebenarnya sangat berharap agar kiblat umat islam diubah ke arah Ka’bah, baitullah. Sehingga beliau pun sering menghadapkan wajahnya ke langit menengadah sembari memohon kepada Allah agar arah kiblat diubah ke arrah Ka’bah. Allah azza wa jalla pada akhirnya mewujudkan harapan dan keinginan nabi Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Allah turunkan ayat yang merubah arah kiblat menjadi ke arah Ka’bah.


Ayat yang dimaksud adalah firman Allah,

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

"Sungguh Kami telah melihat berbolak-baliknya wajahmu menengadah ke arah langit, maka sungguh Kami akan mengarahkanmu kamu ke kiblat yang kamu sukai. Arahkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, arahkanlah wajahmu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 144)


Dengan diturunkannya ayat di atas, maka arah kiblat pun resmi berubah. Yang awalnya menghadap ke arah Baitul Maqdis yang berada di utara kota Madinah, berubah menghadap ke arah Ka’bah yang berada di kota Makkah, di selatan kota Madinah. Rasulullah dan para sahabat pun sudah mulai merubah arah kiblat dalam sholatnya.


Saat itulah, ada seorang sahabat yang pergi ke Masjid Qubā`. Masjid Qubā` sendiri berada di luar kota Madinah. Ia mendapati jamaah masjid ini belum mendapatkan berita perubahan kiblat dan mereka masih shalat menghadap ke arah kiblat pertama (baitul maqdis). Maka ia memberitahu mereka -yang saat itu sedang sholat Subuh- tentang pengalihan kiblat ke arah Ka'bah dan bahwa telah diturunkan ayat Al-Qur`an pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang masalah ini. Sahabat itu juga memberitahukan mereka bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah mulai shalat menghadap ke arah Ka'bah.


Mendengar berita ini, para sahabat yang sedang sholat ini pun lantas segera memutar diri dari arah Baitul Maqdis -kiblat pertama mereka- ke kiblat kedua mereka, yaitu Ka'bah al-Musyarrafah.


Faedah-Faedah Hadits

1. Kiblat pertama umat islam adalah Baitul Maqdis yang berada di Palestina, Syam dan kemudian berubah ke arah Ka’bah yang berada di kota Makkah.

2. Kiblat sholat kaum muslimin adalah Ka’bah. Maka wajib bagi seorang yang shalat untuk menghadap langsung ke hadapannya jika Ka’bah itu ada di hadapannya atau ke arahnya jika memang Ka’bah jauh darinya.

3. Hal yang diperintahkan kepada nabi Muhammad hukum asalnya juga perintah untuk umat beliau, kecuali ada dalil lain yang menunjukan bahwa perintah tersebut khusus hanya untuk nabi Muhammad.

4. Tempat yang paling mulia adalah ka’bah, baitulllah. Dikarenakan kiblat ditetapkan ke arahnya. Dan tidak mungkin diarahkan kiblat untuk nabi Muhammad dan umat islam ini kecuali tempat yang paling mulia.

5. Bolehnya adanya naskh (penghapusan suatu hukum syariat) dalam syariat islam ini yang tentunya ada hikmah yang besar dalam setiap naskh yang terjadi dalam syariat islam ini.

6. Siapa yang ketika sholat mengarah ke kiblat yang salah lalu ia mengetahui arah yang tepat, maka ia harus segera menghadap ke arah yang tepat dan rokaat yang telah terlewat tetap sah dan tidak perlu ia mengulanginya.

7. Bolehnya memerintahkan orang yang sedang sholat melakukan hal-hal untuk kemashlahatan sholatnya.

8. Berita dari satu orang yang terpecaya diterima dan memberi faedah ilmu dan wajib diamalkan. Hadits di atas membantah kelompok mu’tazilah yang menolak hadits yang hanya dibawa oleh satu orang.

9. Ayat di atas merupakan salah satu dalil Ahlu Sunnah wal Jamaah yang berpendapat bahwa Allah berada di atas, bukan di mana-mana. Sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Ketika meminta perubahan arah kiblat, maka beliau menghadapkan wajahnya ke arah langit.

10. Keutamaan para sahabat yang bersegera di dalam menjalankan perintah Allah dan perintah rasul-Nya.

11. Menghadap ke arah kiblat hukumnya wajib ketika sholat dan bahkan merupakan syarat sah solat. Siapa yang sengaja sholat tidak ke arah kiblat, maka sholatnya tidak sah. Dikecualikan yang tidak lagi wajib menghadap kiblat adalah sholat Ketika perag berkecamuk, orang yang sakit dan tidak ada yang membantunya menghadapkan wajahnya ke kiblat, seorang yang sholat di atas kendaraannya.

Diambil dari berbagai sumber. Wallahu a’lam.